Khutbah Jumat Karakteristik Penghuni Surga

Karakteristik Penghuni Surga

Athian1

Oleh : KH Athian Ali M. Da`i MA

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ

Kaum muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepada-Nyalah kita bersyukur atas limpahan kenikmatan yang tak pernah berhenti dikucurkan-Nya kepada kita. Dialah Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat keimanan dan kesehatan kepada kita.

Dialah pula yang telah menyisipkan hidayah dalam hati kita, yang dengan hidayah tersebut, Allah SWT telah menggerakkan hati kita untuk melangkahkan kaki kita menuju masjid ini. Sehingga kita bisa berkumpul bersama untuk menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah shalat Jum’at ini.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah terakhir Muhammad shallallahu alayhi wa sallam. Semoga kecintaan kita kepada beliau SAW, dapat mempertemukan kita dengannya nanti di syurga, bersama dengan para Nabiyyin, shiddiqin, syuhadaa’ dan shalihin.

Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati Alloh ‘Azza wa Jalla, Alloh ‘Azza wa Jalla menciptakan jin dan manusia untuk suatu hikmah yang sangat agung yaitu untuk beribadah hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla semata. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Sebab itu, barang siapa hidup di alam dunia ini dalam keadaan menyadari dan mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidup dan maksud diciptakannya dia—yaitu untuk mentauhidkan Alloh ‘Azza wa Jalla dan melaksanakan ibadah hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla- maka kebahagiaan, keselamatan, dan kemenangan adalah balasan baginya.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.(QS- al-Baqoroh [2]: 25)

Akan tetapi, sebaliknya, orang-orang yang membangkang terhadap perintah Robb-Nya, tidak mau tunduk kepada Dzat yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini seluruhnya, maka kesengsaraan adalah balasan yang setimpal baginya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, mem­peroleh adzab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. al-Mulk [67]: 6)

Dunia adalah darul bala’ yaitu tempat ujian dan ladang beramal, sedang akhirat adalah darul jaza’, tempat menuai hasil dari apa yang ia usahakan ketika hidup di dunia. Maka berbahagialah orang-orang yang mengerti dan memahami hakikat hidup di dunia ini dan menjadikannya sebagai tempat persinggahan sementara saja, bukan tempat peraduan terakhir sehingga ia terlena dengannya dan memuaskan hawa naf sunya serta lupa akan kampung akhirat. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر السبيل

“Jadilah engkau hidup di dunia ini, seperti orang as-ing atau seorang penyeberang jalan.” (HR. al-Bu-khori: 5/2358)

Maka berbahagialah orang-orang yang diselamatkan dirinya di dunia ini, dengan melakukan ketaatan kepada-Nya, karena ia segera akan menjemput ampunan dan surga Alloh ‘Azza wa Jalla yang luasnya seluas langit dan bumi. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) am­punan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan rosul-wsul-Nya. Itu­lah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Hadid [57]: 21)

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla

Sungguh telah banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang indahnya surga dan penghuninya. Di antaranya Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ

(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, ‘sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Robb mereka. (QS. Muhammad [47]: 15)

Adapun beberapa sifat penghuni surga, Alloh ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan dalam banyak ayat-Nya. Diantaranya adalah sebagaimana yang Alloh ‘Azza wa Jalla sifatkan dalam firman-Nya:

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan me-maafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari-pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbua­tan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. All Imron [3]: 133-135)

Maka dari ayat di atas, kita mengetahui sebagian karakteristik para penduduk surga, dan yang pertama mereka adalah: ألْمتّقِين yaitu orang-orang yang bertaqwa.

Mereka adalah orang-orang yang menjaga dirinya dari adzab Alloh ‘Azza wa Jalla dengan melakukan perintah-perintah-Nya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya dengan mengharap pahala, dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud dari ke­taatan dan merasa takut akan ditimpakan adzab Alloh ‘Azza wa Jalla kepada-Nya.

Sebaik-baik pengertian taqwa adalah apa yang didefinisikan oleh Tholq bin Habib, beliau mendefinisikan taqwa adalah:

“Taqwa adalah engkau mengamalkan ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla di atas cahaya Alloh ‘Azza wa Jalla dengan berharap pahala-Nya, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla di atas ‘cahaya Alloh ‘Azza wa Jalla dengan takut atas adzab-Nya.

Maka taqwa adalah ketaatan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla yang di bangun di atas ilmu dan ittiba’ (mengikuti) kepada sunnah-sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.

Sifat yang kedua di antara karakteristik pen­duduk surga adalah: الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء yaitu orang-orang yang mengeluarkan infaqnya dari apa-apa yang ia diperintah untuk mengeluarkannya, semisal zakat dan sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya, demikian juga infaq dalam jihad dan selainnya. Mereka mengeluarkan infaqnya baik ketika lapang mau­pun sempit, keadaan lapang tidak membuat me­reka rakus dan tamak, dan keadaan sempit tidak membuatnya bakhil untuk mengeluarkan zakat yang merupakan kewajibannya.

Lalu sif at berikutnya adalah:وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yaitu merekalah orang-orang yang mampu me­nahan dan meredam amarahnya dan ia tidak dengki kepada selainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, melainkan (orang yang kuat adalah) orang yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Muslim: 4/2014)

لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَاْ بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لَأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

(Berkata Habil,) “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Alloh, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. al-Ma’idah [5]: 28)

Dan dalam firman Alloh artinya sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Orang mukmin adalah orang yang selalu berbuat baik kepada manusia yang lain, berlaku baik dan berakhlak mulia kepada manusia, bahkan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud: 4/220)

Dan dalam ayat tersebut juga terdapat isyarat bahwa memberikan maaf itu terpuji apabila timbulnya dari orang yang ia ingin berbuat baik setelahnya. Akan tetapi, memaafkan orang yang justru bila dimaafkan akan bertambah kesewenang-wenangannya, maka hal ini tidak terpu­ji. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. asy-Syuro [42]: 40)

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Alloh ‘Azza wa Jalla

Kemudian sifat dan karakteristik penduduk surga yang selanjutnya adalah:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imron [3]: 135)

Salah satu karakter penduduk surga adalah apabila ia berbuat dosa baik karena lalai maupun karena mengikuti hawa nafsunya maka ia segera kembali ingat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, lalu ia bertaubat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla dengan taubat yang sebenarnya, bukan malah terus-menerus menceburkan diri dalam kehinaan dan kesengsaraan dunia sebelum kesengsaraan di hari pembalasan, karena setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah bertaubat darinya.

“Setiap bani Adam adalah pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah bertaubat darinya.” (HR. at-Tirmidzi: 4/569)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

Image012
KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهًدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلِيِّ الصَّالِحِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْبِيًاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، أَمّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Akhirnya, kita berdo’a kepada Allah Swt, semoga kita senantiasa ditetapkan jalannya di atas kebenaran, mengetahui yang benar adalah benar lalu kita diberi taufiq untuk mengikutinya dan mengetahui yang batil adalah kebatilan dan kita diberi kekuatan untuk meninggalkannya, dan semoga amal ketaatan yang selama ini kita kerjakan itu pulalah yang akan menjadi akhir dan penutup dari kehidupan kita di dunia yang fana ini, sehingga kehidupan ini ditutup dengan husnul khotimah yang kita berharap balasan baik dan surga Alloh Swt kelak pada hari pembalasan. Aamiin.

Ya Allah pelihara iman kami dan berikan kepada kami kesempatan merasakan manisnya iman dalam kehidupan ini yaitu dalam meneladani seluruh sunnah Rasulullah saw. dengan sebaik-baiknya, sebelum Engkau panggil kami untuk menghadap-MU.

Ya Allah peliharakan hati dan pendengaran kami agar tidak terpedaya dari tipu daya syaithan yang merusak amal ibadah yang telah dan akan kami lakukan.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات

و الذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
Assalamu`alaikum Wr. Wb

SUMBER

Oleh: Athian Ali M. Da`i. Lc, MA

Lembar Kajian Syakshiyyah Islamiyyah Forum Ulama Ummat Indonesia Sabtu 18 Dzulqaidah 1435H/13 September 2014

ara

Di edit ulang untuk Khutbah Jumat / Tausiyah

Oleh : H.A. ROZAK ABUHASAN, MBA

http://arasitusislam.com/

https://arozakabuhasan.wordpress.com/

http://arozakabuhasan.blogspot.com

Iklan

Saad bin Amir al-Jumahi

Saad bin Amir al-Jumahi

http://myteam.eramuslim.com/indexx.php?view=_tokohbiografi-detail&id=3

Gambar

 

Saad bin Amir al-Jumahi memeluk Islam sebelum kejatuhan Khaibar iaitu pada bulan Safar, 7 Hijrah. Di kalangan sahabat namanya tidak terlalu menonjol. Namun begitu sejarah kehidupan Saad penuh dengan contoh teladan. Beberapa kejadian dalam kehidupan Saad dapat mengungkapkan mengenai ketinggian peribadinya. Dalam aspek kepimpinan adalah yang paling menonjol. Sebagai pemimpin umat beliau memiliki beberapa sifat yang terpuji.

 

 

Pertama, Saad tidak memandang jawatan sebagai harta perhiasan dunia yang perlu dikejar serta dibanggakan. Sewaktu Umar bin Khattab menjadi khalifah, Saad dilantik sebagai Gabenor Homs. Sejak awal lagi, dia keberatan untuk menerima perlantikan itu. Katanya kepada Amirul Mukminin, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah!”. Mendengar jawapan itu Umar berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak mahu melepaskan kamu! Apakah kamu hendak membebankan amanah dan khilafah di atas bahuku, kemudian kamu meninggalkan aku?”. Akhirnya dengan rasa berat dia menerima juga perlantikan itu.

 

 

Kedua, tanggungjawab terhadap amanah merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh Saad. Dengan itu dia berupaya mengerahkan segala kemampuannya sebaik mungkin, termasuk kewangan. Dia beusaha pula mengendali serta menjelaskan sikapnya kepada isterinya. Sebaik saja perlantikan dibuat, Saad dan isterinya berangkat ke Kota Homs. Khalifah membekalkannya wang secukupnya serta keperluan hidupnya yang lain.

 

Suatu ketika apabila kedudukan Saad telah agak kukuh, isterinya mengemukakan satu permintaan. Dia ingin membeli pakaian, perabot rumah tangga menggunakan sebahagian harta yang dikumpulkan. Melihat keinginan isterinya itu, Saad berkata “Mahukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rancanganmu itu? Kita berada di satu negeri yang sangat pesat dengan urusan jual beli yang menguntungkan. Lebih baik kita serahkan harta kita sehingga keuntungan yang besar akan selalu kita perolehi!”.

 

 

Mendengar janji yang sangat menarik itu, isterinya menerima cadangan itu dan menyerahkan wang kepada Saad. Waktu terus berlalu. Setiap kali si isteri bertanya mengenai wang simpanannya, Saad menyatakan keadaannya baik dan berjalan lancar. Bahkan urusniaga dari sehari ke sehari semakin bertambah dan banyak keuntungan yang diperolehi. Kerana Saad selalu memberi jawapan demikian, pada satu hari isterinya bertanya kepada salah seorang sahabat yang mengetahui kedudukan hal yang sebenar. Setelah didesak, akhirnya sahabat itu memberitahu bahawa Saad telah menginfaqkan hartanya di jalan Allah SWT.

 

 

Mendengar itu, berlinanglah air mata si isteri kerana Saad telah mengurangkan modal untuk ‘perniagaan’ tersebut dan dia tidak mungkin akan ‘mendapat semula’ wang itu. Melihatkan kekecewaan isterinya, Saad berkata, “Bukankah kamu tahu bahawa di dalam syurga itu terdapat banyak gadis cantik bermata jeli hingga seandainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi ini maka akan terang benderanglah seluruh permukaannya dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar  matahari dan bulan. Oleh itu mengorbankan dirimu demi mendapatkan mereka tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengorbankan mereka untuk mendapatkan dirimu”.

 

 

Ketiga, Saad bukanlah jenis pegawai yang menafkahkan hartanya sekadar sebagai simbolik sedangkan sebenarnya dia berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Pengorbanannya sebagai seorang pemimpin begitu besar dan harga dirinya begitu tinggi sehingga Umar sendiri pun terkejut mendengar mengenai kehidupan runah tangga Saad.

 

Suatu ketika Umar mengirim wakil ke Homs untuk meninjau keadaan pemerintahan di sana. Ketika wakil itu kembali ke Madinah, Umar meminta senarai penduduk Homs yang tergolong dalam kategori fakir miskin. Sewaktu Umar meneliti laporan itu, dia ternampak nama Saad dimasukkan sebagai orang yang perlu mendapat bantuan kerana kemiskinannya. Umar bertanya kepada wakil itu, “Betulkah gabenor kamu ini miskin?”. Jawab mereka, “Benar, ya Amirul Mukminin. Demi Allah di rumahnya selalu tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak)!”.

 

 

Mendengar jawapan itu, menitislah air mata Umar. Dia menyuruh wakilnya menyerahkan uncang berisi wang untuk bekal kehidupan Saad. Sewaktu menerima kiriman daripada Umar itu, Saad mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!”. Dia terus memanggil isterinya dan mengarahkannya supaya membahagikan wang itu kepada fakir miskin.

 

 

Keempat, Saad sentiasa bersifat berlapang dada terhadap pelbagai kritikan yang datang daripada rakyatnya. Sebenarnya memang sebelum kedatangan Saad pun, penduduk Homs sudah terkenal sebagai golongan yang banyak menuntut itu dan ini. Homs pada ketika itu dikenali sebagai Kuwaifah (Kufah kecil) kerana penduduknya yang mirip dengan orang Kufah, iaitu senang melapor kepada pemerintah pusat akan kelemahan yang dianggap ada pada gabenor mereka.

 

 

Suatu ketika Umar datang ke Homs. Kesempatan itu digunakannya untuk mendapatkan pandangan rakyatnya. Dalam satu majlis dia mempersilakan rakyat menyampaikan rasa tidak puas hati terhadap pemimpin mereka. Tanpa berselindung sedikit pun mereka mengemukakan empat rungutan kepada khalifah iaitu (1) gabenor baru keluar dari rumah setelah matahari tinggi, (2) tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari, (3) dalam sebulan ada sehari tidak datang ke pejabat sehari penuh dan (4) kadangkala gabenor jatuh pengsan di hadapan umum.

 

 

Umar menerima kritikan itu dan kemudian mempersilakan Saad mengajukan pembelaannya. Saad berkata, “Mengenai tuduhan mereka bahawa saya tidak hendak keluar sebelum matahari tinggi, maka demi Allah, sebetulnya saya tidak hendak menyebutkannya…keluarga kami tidak memiliki pembantu. Oleh itu setiap pagi terpaksa saya membantu membuat adunan roti terlebih dahulu untuk keluarga saya. Sesudah adunan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudian saya berwuduk untuk solat Dhuha. Sesudah itu saya berangkat ke tempat bertugas.”

 

Mengenai kritikan kedua, saya telah membahagi waktu saya. Siang hari untuk melayani masyarakat dan malam hari untuk bertaqarrub ilallah.

 

 

Mengenai kritikan ketiga, seperti yang telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pelayan atau pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki pakaian yang melekat di badan ini. Saya mencucinya sebulan sekali. Bila mencucinya saya menunggu kering terlebih dahulu. Selepas itu barulah saya dapat pergi melayani masyarakat.

 

 

Tentang kritikan keempat, ketika saya masih jahiliah saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin Adi dihukum oleh kaum Quraisy yang kafir. Saya menyaksikan tubuhnya dicincang oleh orang Quraisy. Mereka bawa tubuh itu dengan tandu sambil bertanya kepada Khubaib, ‘Mahukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sihat wal afiat?’ Jawab Khubaib, ‘Demi Allah, saya tidak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia manakala Rasulullah SAW ditimpa bencana walau oleh tusukan duri sekalipun…’

 

 

“Setiap kali saya terkenang peristiwa itu tubuh saya gementar kerana takut akan siksa Allah dan saya berasa berdosa kerana pada waktu itu saya tidak dapat membantu Khubaib sedikit pun. Dan saya berasa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT…!”

 

 

Saad mengakhiri kata-katanya dengan titisan air mata di kedua belah pipinya. Mendengar alasan Saad itu, Umar pun tidak dapat menahan rasa terharunya. Di peluknya gabenor itu sambil berkata, “Alhamdulillah kerana dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset”.

 

 

Sumber: http://www.haluan.org.my/v3/index.php/saad-bin-amir-al-jumahi.html